Pemantik Kegembiraan


Penulis : Prie GS
Rating Artikel :
Kamis, 07-Agustus-2008
Salah satu kelemahan saya adalah kurang menyukai bepergian. Tetapi inilah hukum keseimbangan itu. Ia bekerja tidak berdasarkan apakah kita suka atau tidak suka. Ia bekerja memang demi sebuah keseimbangan itu sendiri tak peduli apakah saya suka atau benci. Maka meskipun saya kurang menyukai bepergian tetapi saya terpaksa sering bepergian karena sebuah keadaan. Dan manfaat bepergian itu, lepas dari saya suka atau benci kepadanya, baru terasa ketika pulang. Banyak ijazah hidup, memang cuma bisa dibentuk oleh pergi. Di dalam  pulang, manusia memperoleh arti-artinya yang baru, bobot hidupnya yang baru.

Kangen anak-anak, menemukan puncaknya ketika saya pulang dari bepergian. Menyadari pentingnya rumah pun, baru  setelah kita ada di kejauhan.  Menghargai milik sendiri, makin terasa ketika menjelang pergi, itulah kenapa pergi selalu ingin kembali karena akan ketemu milik sendiri. Itulah kenapa setelah pulang kita harus pergi lagi demi menyadari milik kita yang ada di sini. Karena yang di sini, menjadi tambah berharga justru ketika kita di sana. Jadi, suka atau benci, saya harus pulang dan  pergi.

Tetapi peristiwa berikut inilah yang hendak  saya tekankan. Betapapun saya menyadari manfaat bepergian, tetapi karena dasarnya kurang  suka bepergian, selalu ada rasa terpaksa di dalamnya. Dan Anda tahu keaadaan orang terpaksa. Semuanya menjadi berat terasa. Baru menata kopor saja, penderitaan itu sudah dimulai. Di rumah, semua barang yang saya butuhkan tersedia: pemotong kuku, pencukur kumis, ballpoint, buku… barang-barang itu tampaknya remeh, tetapi ketergantungan saya kepadanya amat nyata. Kehilangan pemotong kuku di saat saya membutuhkannya, seperti dipecat dari pekerjaan saja rasanya.  Sekali lagi, di rumah, cukup hanya dengan berteriak,  sudah ada anak yang mengantar, sudah  ada istri yang menyediakan. Tetapi ketika hendak  pergi,  seluruh barang itu harus saya urus sendiri. Pada saat itulah saya merasa sedang meremas seluruh barang di jagat raya cuma untuk dilesakkan dalam  sekotak kecil bejana. Berat rasanya.

Habis menata kopor, harus ke bandara. Antre, menunggu, bengong. Seluruh kegiatan kita rasanya tak berarti lagi karena intinya cuma mengisi waktu tunggu  itupun tidak  ada jaminan tepat waktu. Karena pesawat bisa menunda penerbangannya kapan saja dia mau. Jika pesawat tepat waktu pun tidak menjamin kita gembira karena jika benda ini telah  terbang, di situlah soal utamanya. Kita tidak mengerti lagi, siapa yang paling berkuasa di atas  sana. Pasti bukan pilot, bukan mesin, dan bukan awak kabin. Jadi saat  kita terapung-apung di ketinggian, segalanya sedang menjadi nisbi. Kenisbian itu kadang menggembirakan, kadang menakutkan kadang melelahkan. Gembira ketika  kita sedang kuat. Menakutkan ketika kita sedang lemah, dan melelahkan ketika kita sedang bosan. Saya ingin mengambil yang ketiga ini saja, kebosanan itu. Itulah saat ketika seluruh tubuh dan mental sedang berada di titik terendahnya, Pada saat itulah leher  saya mulaii tegang, kepala saya mulai serasa dipaku pelan-pelan. Jika paku itu melesak makin  dalam, rasanya bisa Anda bayangkan. Dan itulah yang saya alami di sebuah ruang tunggu bandara suatu kali. Sakit sekali rasanya.

Tetapi dalam kesakitan itu, saya masih menyempatkan waktu untuk melirik seorang bapak yang duduk di sebelah, saya masih menyempatkan menatapnya, mengangguk, terenyum, menyapa, hasil dar kebiasaan saya saja. Akibatnya ia melempar obrolan.  Padahal kebutuhan terbesar saya saat itu sebetulnya cuma ingin  diam dan merasakan paku di kepala itu. Tetapi saya sekuat mungkin mendengarnya  bicara, mencoba tersenyum, mencoba tertawa jika perlu, sambil meringis tentu.

Reaksi yang tak biasa ini mebuat bapak itu curiga. Ia mengerti saya sedang sakit tampaknya. Demi melihat si sakit ini masih mencoba melayaninya  bicara, ikut gembira ketika ia bercerira tentang cucu pertamanya, apa yang dia lakukan kemudian? Tanpa basa-basi, ia langsung mengeluarkan balsam (hahaa… benar-benar balsam!). Memijit seluruh tengkuk, kepala dan tangan  saya. Kami berdua langsung buka praktek pijat di tempat keliru itu tanpa rasa malu. Segar sekali badan saya. Apapun keadaan Anda , gembirakan orang lain, maka akan datang kegembiraan yang  lebih besar untuk Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: