Narsis Itu Perlu


Penulis : Prie GS
Rating Artikel :
Selasa, 09-September-2008
Saya tahu wajah saya tidak keren, tetapi saya tetap saja membutuhkan cermin untuk berkaca. Kenapa? Karena memang ada naluri narsis pada diri saya. Tak peduli seberapapun jelek wajah saya, saya akan terus berkaca, sekadar untuk kagum pada diri sendiri, eh barangkali memang ada sesuatu yang mengagumkan di sana. Ketika kekaguman itu ternyata tidak ada, anehnya sayajuga tidak kecewa dan tetap saja berkaca. Ini aneh, tetapi nyata. Jadi, sulit untuk menghindar dari perasaan narsis itulah pijakannya. Maka saya berusaha untuk mencari manfaat dan bahaya narsisme ini, untuk menekan bahayanya dan memperkembangkan manfaatnya.

Saya akan mulai latihandengan anak-anak saya. Kepada si kecil saya bertanya: ‘’Di sekolah siapa yang lebih banyak, para pembenci atau penyukamu?” tanya saya, tentu dengan bahasa yang lebih sederhana. Ia mengaku lebih banyak disukai. Saya tanya kenapa. Dan ia berpikir keras. Dari otaknya ternyata tidak keluar apa-apa sebagaijawaban. Saya menungggunya. Karena situasinya hampir deadlock, datang kakaknya kelas dua SMP hendak membantu.

‘Tak ada orang bisa menilai diri sendiri!” kata si kakak berkomplot melawan bapaknya. Tetapi kepada mereka saya beri bukti sederhana. Bahwa pernyataaan itu keliru. Pernyataan anak saya itu pasti bagian dari konvensi berpikir yang telah berjalan menjadi kebudayaan termasuk gaya berpikir saya sendiri. Tetapi kami merasa harus merevisi pendapat ini. Menilai diri sendiri ternyata mudah sekali. Sangat mudah malah, karena ia adalah diri kita sendiri. Kita pasti mengerti kelemahan dan kelebihan diri sendiri.

Saya misalnya, punya kemalasanyang tinggi. Jika saya tampak rajin bekerja, sesungguhnya semua itu cuma terpaksa. Karena kalau tidak bekerja saya dipecat. Jika saya terlihat bekerja keras, sesungguhnya karena tekanan keadaan. Meksipun sudahberistri, ternyata saya masih juga suka melirik-lirik wanita cantik. Kadang-kadang di luar pengetahuan istri dan kadang malah ketika kami sedang berduaan. Seringsaya kepergok menatap seorang perempuan cantik yangsedang melintas sehingga istri marah. Karena terpangkap basah, saya lalu mengeluarkan jurus bertahan sekenanya. ‘’Ya sudah, aku salah. Sebagai permohonan maafku, kamu juga boleh nanti kalau mau ganti melirik bapak-bapak yang ganteng,” kata saya. Saya tidaktahu, apakah istri benar-benar membalaskan sakit hatinya.

Tegasnya, saya dengan mudah menemukan kelemahan saya. Maka pasti dengan mudah juga saya menemukan kelebihan saya. Cuma barangkali saya tidak terlatih untuk terbuka. Konvensi budaya disekitar saya tidak mengijinkan mengatakannya secara terbuka. Tetapi pelanggaran kebudayaan ini pasti bukan dosa kalau terbuki lebih membawa kebaikan di kelak kemudian. Kebaikan untuk siapa? Untuk diri saya sendiri lebih dulu terutama. Karena ketika saya menemukan kelebihann diri secepatnya, minimal sayatidak akan menjadi benalu masyarakat. Maka akan saya katakansaya ini pintar menggambar, pintar bermusik, pintar menulis, pintar ngomong, pintar menyenangkan hati orang dan seterusnya. Perasaan menemukan kelebihan diri sendiri ini sangat membantu saya untuk segera memartabatkandiri sendiri dengan kelebihan yang ada.

Jadi ketika anak saya itu kebingungan menjawab, tegas saja kesimpulansaya, bahwa ia bukan tidak mengerti kelebihnnya tetapi sedang ragu-ragu saja. Maka ketikasaya ancam akan memotong separoh anggaran belanja mainannya, kecerdasan itu langsung derasmengalir dari otaknya. Ia jadi tidak ragu-ragu menyebut seluruh rahasia kenapa ia disukai teman-temansekolahnya, termasuk wajahnya yang keren. Ya, itu pertama kali dia mengaku secara terbuka punya wajah tampan, padahal wajah itu sudah9 tahun melekat di sana. Banyak kelebihan-kelebihan diri ini mati karena ia jarang kita sapa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: