Kepergian Pertama


Penulis : Prie GS
Rating Artikel :
Selasa, 29-Juli-2008
Hari itu, aku melepas kepergian anakku dengan segenap rasa haru.  Ada tas terselempang di bahu kecilnya, ada dua stick drum terselip di sela-selanya. Aku lepas dia hingga lenyap di tikungan jalan. Sementara ia tak nampak lagi aku masih terpaku di halaman.

Sebetulnya ritual ini ini amat berlebihan. Karena yang kusebut pergi itu bukan pergi jauh, bukan sekolah ke luar kota apalagi untuk pergi ke luar negeri. Yang kusebut pergi itu sesungguhnya hanya ngeloyor ke gang  sebelah untuk kursus drum. Benar-benar  cuma gang  sebelah karena tempat kursus itu hanya berjarak beberapa rumah. Tetapi dasar kami ini keluaga kurang kerjaan,  seberapapun jauh kepergian anak kami, itulah kepergian pertamanya hingga ia naik kelas empat SD.

Walau memang, karena kekhawatiran kami yang berlebihan, tak pernah anak-anak itu kami lepas sendirian bahkan untuk sekadar bepergian sederhana. Banyak faktornya. Bisa karena bahkan di gang-gang kampung pun sekarang ini telah menjadi medan berbahaya tempat kebut-kebutan. Semua anak sekarang ini  seperti diajari untuk menjadi pembalap, sebelum masanya tiba. Maka jalan raya  adalah  horor yang menakutkan.

Belum pula jika kami memikirkan penculikan anak misalnya. Inilah jaman ketika semua anak seperti  boleh diculik. Tidak perlu menunggu menjadi milyader untuk khawatir terhadap penculikan karena ada jenis peculik yang tidak  perlu uang tebusan. Penculik ini cuma butuh mendapatkan sembarang anak, membuangnya jauh ke luar kota kalau perlu keluar pulau  dan menjadikannya sebagai pengemis di jalan-jalan. Membayangkan kejahatan itu menimpa anak-anak kita adalah imajinasi yang tak ingin aku fantasikan.

Tetapi memang, walau  semua risiko itu mungkin, walau gang-gang kampung pun telah menjadi medan berbahaya, walau penculikan anak bisa terjadi pada siapa saja, sumber ketakutan terbesar itu pastilah imajinasiku  sendiri. Nyatanya anak-anak tetangga itu begitu gembiranya. Ada yang masih belum cukup panjang kakinya, tetapi sudah boleh bermotor ke mana-mana termasuk keliling kota tanpa helm, tanpa SIM, dengan dengan kecepatan  gila, eh… pulang toh masih selamat juga.

Ada anak begitu kecilnya, tetapi jika  sudah bersepeda seperti pembalap saja layaknya. Ia bisa menikung di tikungan tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan. Mudah membayangkan apa yang terjadi jika ada motor lewat dari lain jurusan  pada saat yang bersamaan. Padahal apa susahnya mencari motor nekat semacam itu. Motor kreditan merajalela dan tak perlu menunggu anak menjadi remaja untuk menerjunkan mereka ke jalan raya yang ganas. Tapi  eh, pada saat anak itu menikung, hasilnya kok ya baik-baik saja. Nyatannya tabrakan yang aku takutkan itu juga cuma terjadi  sesekali padahal kecerobohannya berlangsung  setiap kali. Ini benar-benar kemurahan Tuhan. Mungkin karena paham Tuhan Maha Pemurah itulah, banyak sekali orang menjadi ceroboh dengan percaya diri. Aku kadang-kadang iri juga melihat orang-orang yang ceroboh tetapi selamat berkali-kali. Enak betul.

Untung  saja, baik si pemberani seperti mereka, maupun si penakut sepertiku memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Karena sikapku yang penakut itu, misalnya, bisa membuat anakku yang cuma kursus ke gang  sebelah itu,  aku bayangkan sebagai  pergi ke luar negeri. Akibatnya keberangkatnnya harus kulepas dengan cara sedemikian rupa, selama dalam perjalanan kubayangkan  sedemikian rupa, selama pergi kunanti  sedemikian rupa, sehingga begitu pulang ia juga kusambut sedemikian rupa, setara dengan menyambut anak pulang dari medan perang saja layaknya. Jadi, untuk memeluk anak dengan histeris, tidak perlu menunggu anak kita benar-benar harus pulang dari berperang. Cukup ketika ia pegri ke kampung sebelah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: