Di Sebuah Alun-alun


Penulis : Prie GS
Senin, 16-Juni-2008
Pada suatu perjalanan berceramah ke luar kota, saya memerlukan berhenti di alun-alun  sebuah kota. Berhenti, untuk mencari tukang bakso dan berencana makan sepuasnya. Bukan bakso sembarang bakso, dan bukan makan sembarang makan, tetap makan yang telah menyerupai balas dandam. Karena di alun-alun itu, saya pernah tak punya uang dan kelaparan. Di saat itulah kedai bakso yang tegak lurus di  depan saya menjadi pemandangan yang amat menyiksa.

Masih jelas tergambar uap kuah panas setiap tukang bakso ini mengangkat tutup panci panjangnya. Aromanya  tak akan saya lupa sampai beruban rambut saya. Ini bakso juga bertahu dan berketupat jika pembeli menghendaki. Dari jarak pandang saya, jelas tertangkap pula tumpukan tulang sapi muda di kotak kacanya itu. Cuma dengan memandangnya saya sudah meyakini kelezatannya. Maka itulah pemandangan yang saya catat sebagai salah  satu musibah terbesar dalam hidup saya. Tetapi ketika berpuluh tahun kemudian saya melewati alun-alun ini kembali, berubah sudah pandangan saya atas  musibah. Bahwa ia, tak lebih dari kebahagiaan yang tertunda. Belum pernah saya makan bakso seenak edisi  balas dendam ini.

Sungguh, saya mengajak Anda semua untuk mempeprcayai rumus  ini, bahwa seluruh kepahitan-kepahitan hidup, hanyalah intro bagi  sebuah kegembiraan. Maka orang yang tidak pernah menderita,  sebetulnya telah kehilangan separoh kebahagiaannya. Saya tidak mengada-ada, sekarang ini saya merasa bersyukur pernah menjadi miskin. Dari kanak-kanak hingga remaja, saya tidak pernah merasakan enaknya tinggal di rumah sendiri. Orang tua ngontrak melulu dan itu pun dari jenis yang amat sederhana. Perasaan kecil hati  sebagai orang  kontrakan sepanjang hayat benar-benar mengancam harga diri  saya. Apalagi rumah itu  bukan benar-benar kontrakan, melainkan  sekadar nempel d rumah orang lain. Siapapun orang lain itu, baik hati atau jahat, kami harus berbaik-baik kepadanya. Ketertekanan semacam  itu, saya pikir hanya sedikit  lebih baik dibanding hidup dalam penjara.

Tetapi seluruh kesakitan itu, ternyata hanyalah untuk modal saya dalam menikmati rumah saya yang sekarang. Rumah saya memang kecil saja, kacau pula bentuknya. Tetapi itu adalah rumah  saya sendiri. Ada saya  di dalamnya. Saya sepenuhnya! Rumah ini mau saya tingkat ke atas, mau saya tingkat ke bawah, terserah saya. Di dalamnya,  saya bebas  berbuat apa saja. Menciumi istri setiap kali, membantingi anak di tempat tidur kapan saja saya mau. Semua  bisa saya lakukan  dengan merdeka. Perasaan merdeka itu luar biasa. Dan kemerdekaan baru terasa berharga jika singgah di benak orang yang pernah terjajah hidupnya. Jadi tak ada yang tidak berguna di dalam hidup ini, termasuk keterjajahan.

Karena tinggi tubuh saya tak seberapa dan wajah juga tidak keren pula, di masa remaja dulu, amat sulit laku pacaran. Jatuh cinta amat  sering, tetapi kena tolak jauh lebih  sering. Pada saat itu, dunia  seperti mau runtuh rasanya. Tetapi semua ini ternyata cuma bekal untuk  melihat istri dengan perasaan  berbeda di hari ini. Ooh, laku juga saya. Ada juga orang yang mencintai saya. Dan  setiap memandangi istri  meskipun bentuknya makin lama makin merorot di sana-sini, saya tak peduli. Bagi saya, kedudukan isttri menjadi tinggi sekali. Maka, inilah saat menatap kepahitan-kepahitan hidup itu dengan cara yang berbeda: bahwa itulah syarat  ketika kebahagiaan yang kelak tiba akan menjadi lengkap rasanya. Tak perlu risau apakah kelak yang di sana itu, akan benar-benar sampai kepada kita. Mau sampai atau tidak, bayangan itu menghadirkan harapan. Dan hidup yang masih berpengharapan, adalah hidup yang kuat dan gembira.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: