Belajar dari Kesalahan Orang Lain

Salah satu premis buku-buku yang saya tulis adalah bagaimana
mempermudah hidup seseorang hanya dengan membaca. Buku-buku how-to,
bisnis, dan motivasi yang telah saya terbitkan, semua mempunyai
premis yang tidak mengenal batas-batas budaya dan geografis.

Lantas, mengapa membaca? Karena, dengan membaca tulisan-tulisan yang
bermuara dari pengalaman pribadi penulisnya, kita bisa mempelajari
kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan mereka sehingga kita
tidak perlu mengulanginya. Jelasnya, dengan membaca kita diberi
kesempatan untuk test drive dengan simulator secara cuma-cuma, tanpa
perlu mengalami kepahitan hidup seperti yang mereka alami. Cukup
dengan menerima informasi dengan hati terbuka dan pikiran yang siap
menyerapnya, kita mestinya sudah bisa belajar dari kesalahan orang
lain.

Lantas, apakah hanya dengan membaca? Jelas tidak. Setiap saat indera
kita bekerja, kita sedang belajar dari Universitas Kehidupan. Saya
dan Anda, kita semua, dalam setiap detik mengalami pembelajaran baik
secara sadar maupun tidak sadar. Apa yang kita lihat, dengar, dan
rasakan, adalah materi pembelajaran. Bagaimana kita memulung dan
menggunakan hasil pulungan itulah yang menjadi bekal hidup di masa
kini dan masa yang akan datang. Istilah memulung dari kehidupan ini
saya pinjam dari Bung Andrias Harefa (terima kasih, istilah ini kena
sekali).

Saya kenal banyak orang yang mengulangi kesalahan-kesalahan diri
sendiri di masa lampau. Apalagi kesalahan-kesalahan orang lain.
Padahal, jelas-jelas hal-hal tersebut terjadi di depan matanya
sendiri. Misalnya, menurut data statistik, seseorang yang mempunyai
masa kecil kelabu—seperti seringnya dipukul oleh
orangtua—kemungkinan
besar ketika mempunyai anak sendiri pun akan menjadi orangtua yang
gemar memukul. Seseorang yang mempunyai orangtua yang kawin cerai,
kemungkinan besar akan menjadi seseorang yang gemar kawin cerai pula.

Apalagi ada kata mutiara yang berkata, “Buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya.” Ini jelas merupakan suatu `indoktrinasi’ yang terjadi
secara tidak disengaja, namun diperkuat oleh kultur yang mengungkung.
Saya sendiri seringkali merasa terkungkung oleh nosi yang salah
kaprah ini. Bahkan sampai hari ini, kadang-kadang masih timbul suatu
keragu-raguan dalam bertindak hanya karena persepsi saya yang salah
atas kehidupan dan di mana saya berdiri.

Sering kali, saya merasa `tidak berdaya’ karena masa lalu dan
kekhawatiran akan masa yang akan datang, yang sesungguhnya hanyalah
berasal dari indoktrinasi masa lalu yang salah. (Istilah indoktrinasi
di sini saya gunakan dalam konteks yang sangat relaks, yaitu
bagaimana suatu proses penempatan konsep diri yang biasanya `salah
kaprah’ tertanam sedalam-dalamnya sehingga sulit digeser.) Beberapa
tahun lalu, saya sangatlah memandang diri sendiri sebagai seseorang
dengan latar belakang keluarga yang tidak begitu sempurna serta tidak
punya banyak uang, sehingga saya merasa menjadi `diri yang cacat’.

Untungnya, dengan tempaan dan mengindoktrinasi diri saya kembali,
saya belajar ulang dari kehidupan dan menghapus segala macam
informasi yang membuat pikiran saya menjadi `cacat’. Ya, bukan saya
yang cacat, namun pikiran saya.

Bagaimana saya belajar ulang atas buku kehidupan yang sudah separuh
jalan ini (dengan asumi usia normal manusia 70 tahun)? Mudah saja.
Refleksi seperlunya dan lakukan secara pragmatis. Jangan libatkan
perasaan. Kalau dilibatkan pun, usahakan seminimal mungkin.

Pertama: Setiap solusi pasti ada pemecahannya yang berasal dari
pemikiran jernih saat itu juga. Jelas, pemecahan ini bukan berasal
dari pemikiran njelimet tidak karu-karuan. Apalagi kalau dibumbui
segala macam nasihat orang lain—yang mungkin pengalaman hidupnya
getir dan pahit—sehingga saran-saran mereka malah mengungkung hasil
akhir dan bukan memberikan solusi.

Karena itu diperlukan latihan memenggal-menggal permasalahan dan
mengkotak-kotakkannya dalam ukuran yang kecil, sehingga bisa dicerna
dengan mudah. Pilah-pilahkan masalah besar menjadi beberapa masalah
kecil, lantas dengan visualisasi di dalam benak Anda, bayangkan Anda
seorang raksasa yang sedang menghantam masalah-masalah kecil tersebut
dalam satu kali sapuan bersih.

Pada saat itu juga masalah hendaknya dipecahkan. Jika tidak
memungkinkan, tulis tindakan lanjutan yang sebenarnya sudah merupakan
pemecahan masalah, namun hanya ditunda sampai waktu dan kesempatan
yang tepat. Sesudah itu, jangan dipikir-pikirkan lagi sampai waktunya
untuk diangkat kembali.

Kedua: Membandingkan masalah kita dengan masalah orang lain yang
serupa. Dari pergaulan sehari-hari dan memperhatikan bagaimana
anggota keluarga kita menjalankan kehidupan, kita bisa dengan mudah
membandingkan suatu situasi yang kita alami dengan bagaimana cara
mereka memecahkan masalah.

Tujuannya bukanlah untuk mengikuti cara mereka dalam memecahkan
masalah. Namun, untuk melihat secara obyektif bagaimana suatu
pemecahan masalah membawa dampak jangka panjang. Misalnya, seorang
ibu yang suka memukul anaknya. Dalam benaknya sudah tertanam anggapan
bahwa itulah cara terbaik dalam mendidik anak yang sedang bermasalah
atau sedang nakal-nakalnya. Lantas, ketika si anak itu sudah
mempunyai anak sendiri, cara itu pula yang ia gunakan untuk mendidik
anaknya. Ini cara yang salah karena ia tidak melihat dampak jangka
panjang dari memukul anak ini secara obyektif. Malah, ia mengulangi
luka-luka lama.

Intinya, kita mesti dengan jeli melihat bagaimana orang lain
bertindak, mengamati dampak dari perbuatan tersebut, dan mengambil
sarinya untuk kepentingan kita sendiri, terutama dalam memecahkan
masalah. Jika cara pemecahan masalah tersebut kelihatan overacting,
seperti si ibu yang gemar memukul tadi, renungkan cara lain yang
lebih kena tanpa menggunakan kekerasan.

Ciri-ciri pemecahan masalah yang salah pun perlu diidentifikasi. Apa
saja ciri-cirinya? Antara lain adalah terlalu berlebihan, terlalu
rumit, dan terlalu mementingkan pandangan sendiri tanpa melibatkan
persepsi orang lain. Anda pasti bisa tambahkan lagi ciri-ciri lainnya
apabila mampu melihat dengan obyektif dan saksama bagaimana orang-
orang di sekeliling Anda memecahkan masalah.

Idealnya, suatu masalah dipecahkan dengan solusi yang berasal dari
nurani, dari pemikiran yang obyektif serta jernih. Jangan
memperpanjang dan memperumit masalah. Pilah-pilah masalah besar
menjadi masalah-masalah liliput yang bisa diterjang dalam satu kali
hempasan. Belajar dari kesalahan orang lain, jadikan itu menjadi
bagian kita, namun pilih pemecahan yang terbaik dalam situasi kita
sendiri.

Hidup itu simpel saja, kok! Ada banyak simulator `gratis’ yang bisa
memperkenalkan kita kepada begitu masalah yang belum kita alami. Test
drive your life dengan menggunakan kesalahan orang lain sebagai bahan
pembelajaran. Dan, itulah rahasia sukses saya dalam menghadapi setiap
masalah.[]

Oleh : Jennie S. Bev. Jennie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: