Subscribe to Agustinus Weblog

Counter Powered by  RedCounter

Selasa, 08-Mei-2007; 11:00:13 WIB
Ketika Sopir Sakit
( 0 Komentar )
Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Hari itu sopir kami sakit dan pemberitahuannya yang mendadak membuat saya kacau sekali. Ini artinya, pagi hari itu saya harus mengantar anak-anak sekolah sendiri, harus mencuci mobil sendiri, harus menyetir sendiri, menembus kemacetan sendiri, mencari tempat parkir sendiri…. Duh Gusti di pagi itu saya gundah sekali.

Kegundahan pertama karena saya bukan pengemudi yang terampil. Melihat lalu lalang kendaraan di jalanan, disalip dari kanan dan kiri, dan menghadapi keganasan jalan raya, bukanlah bakat saya. Saya bisa mengetik bejam-jam di depan komputer tetapi untuk terengah-engah dengan keringat dingin berleleran cukup hanya dengan waktu setengah jam menyetir sendiri di jalanan. Hari itu, saya menghadapi ujian berat.

Maka ketika mobil hendak saya keluarkan dari garasi, dengan kantuk semalaman masih jelas tersisa, dengan bayangan jalan raya yang penuh keganasan, sejuta penderitaan sudah membayang. Kemarahan saya terhadap beban ini membuat saya bersiap untuk marah kepada apa saja. Kepada istri yang rasanya terlalu lambat berkemas-kemas, kepada anak-anak bersepeda yang tahu saya hendak memundurkan mobil tetapi malah menghalangi jalan dengan begitu santainya. Terakhir saya marah luar biasa kepada sopir kami, yang meksipun ia sopir setia, tetapi kenapa harus sakit salah waktu. Sakit ya sakit, tetapi kenapa harus hari Senin, hari ketika saya sangat tidak siap untuk mengerjakan ini semua.

Sepagi itu, kemarahan sudah nyaris mengepul di kepala. Belum lagi jika saya bayangkan, sehabis tugas mendadak ini rampung, berarti ada tugas rutin yang terpaksa molor waktunya. Jika tugas rutin itu molor, maka pertemuan dengan kolega itu akan berubah pula agendanya. Jika agenda itu berubah, maka soal-soal yang sudah rapi tertata harus di bongkar ulang. Repotnya sungguh tak terbayangkan.

Tetapi ketika kemarahan itu hendak memuncak bahkan sebelum saya benar-benar mengerjakan seluruh kerepotan itu, saya melihat anak-anak saya yang sepagi itu telah rapi dengan seragam sekolahnya, dengan bekal makan minum, dan kesigapan menyambut tugas. Astaga! Betapa lama saya tidak mengantar mereka ke sekolah, tugas yang sebelum sopir kami ada, selalu menjadi tugas saya. Betapa tiba-tiba saya teringat tentang pagi-lagi ketika kami selalu berada di jalanan bersama-sama. Melepas mereka ke sekolah, berdada-dada dari kejauhan dan menatap anak-anak dengan perasaan bangga, khawatir dan gentar.

Bangga, karena kami dianuegarhi putra-putri yang sehat lahir-batin. Saya dan istri bukanlah pasangan yang sempurna. Penuh cacat dan kesalahan, brengsek dan sering tidak bemrutu. Tetapi bahwa dari pasangan yang tidak bermutu seperti kami, Tuhan tetap menganugerahkan anak-anak yang baik membuat kami tersipu dan terharu.

Melihat anak-anak dari kejauhan dengan tas sekolah di punggungnya, adalah juga melihat kekhawatiran jika kelak kami tidak sanggup membimbingnya ke arah yang semestinya. Betapa anak-anak tidak cuma membutuhkan arah yang jelas, tetapi juga keteladanan dan nasib baik. Sanggupkah kami memberi arah yang jelas, sementara untuk mempertegas arah kami sendiri saja masih begini repotnya. Sanggupkah kami memberi keteladanan jika kami sendiri masih tergoda oleh banyak sekali keburukan.

Ketiga adalah perasaan gentar itu, karena untuk apa kami punya arah yang jelas, punya keteladanan, jika tanpa nasib baik. Seideal apapun keluarga Anda, Anda tidak bisa mencegah ancaman gempa bumi yang bisa membuat seluruh kampung kita porak poranda dan risiko perang nuklir yang mengancam kita kehilangan orang-orang tercinta. Aduh… aduh…sepagi itu, imajinasi saya sudah merayap ke mana-mana. Sehingga tanpa sadar, anak-anak itu sudah saya kepas masuk ke kelas-kelas mereka dan di mobil tinggal saya berdua dengan sitri tercinta, mirip ketika dulu kami sedang pacaran saja.

Gara-gara sopir sakit, saya kembali menemukan keindahan-keindahan lama yang nyaris terlupa. Maka kenapa harus takut kerepotan mendadak seperti ini, jika ia ternyata adalah pintu-pintu untuk menemukan kembali kebahagiaan yang hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: