Motivasi

Senin, 30-Juni-2008; 11:53:20 WIB

Memilih Hidup Sekali Lagi

Oleh : Andrie Wongso
 

Dikisahkan, Tuhan setiap saat mendengar keluh kesah, ketidakpuasan, dan penderitaan dari manusia ataupun dari makhluk lain ciptaan-Nya. Pada suatu ketika, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi, ingin menjadi apakah masing-masing dari mereka? Maka, Tuhan pun bertanya kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Saat itu, tikus dengan cepat menjawab, “Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak jadi kucing, dia bisa bebas merdeka berada di dapur, disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia.”

Kucing pun dengan sigap menjawab, “Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah membuat orang serumah kewalahan, dan tikus bahkan bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus.”

Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, ayam menjawab, “Pasti aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah langit di atas sana, elang tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri, ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali.”
Sebaliknya, si elang segera menjawab, “Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas.”

Saat pertanyaan yang sama diberikan pada manusia, ternyata perempuan dan lelaki pun memberikan jawaban yang beda. Si perempuan menjawab, “Saya ingin menjadi laki-laki. Pemimpin besar dan yang hebat-hebat adanya pasti di dunia laki-laki, Menjadi perempuan sangatlah menderita, harus selalu melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka, ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.”

Kaum lelaki pun tak urung ikut menjawab, “Aku mau jadi perempuan. Halus budi bahasanya, tidak perlu bekerja keras menghidupi keluarga, selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Ingat, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan, surga saja ada di bawah telapak kaki ibu atau perempuan.”

Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Maka, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.

Pembaca yang berbahagia,

Ada pepatah yang mengatakan, “Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri.” Hal tersebut sejalan dengan kisah di atas. Memang, tak bisa dimungkiri jika manusia kadang justru lebih sering memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain. Hal ini membuat orang acap kali mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Tak heran, jika pikiran selalu dipenuhi dengan perasaan tersebut, maka hidup akan selalu menderita akibat terbiasa selalu membanding-bandingkan. Padahal, tahukah kita jika orang yang kita pikirkan justru mungkin berpikir sebaliknya?

Maka, dengan mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Dan, bisa ikut berbahagia melihat kebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.

Mari, cintai apa yang kita miliki, hidup pasti akan lebih berarti. Maka, kita akan bisa menyongsong kegembiraan dan kebahagiaan sejati.

Salam sukses luar biasa!!!

Andrie Wongso

Jumat, 11-Juli-2008; 08:58:04 WIB

Jadilah Seperti Ikan Di Air Bening Yang Tenang 

Oleh : Benedict Agung Widyatmoko

Salam untuk Anda semua,

Kapan ya hidup ini bisa damai ?
Anda tentu sering mendengar ungkapan tanya di atas. Ungkapan dari seseorang yang merasa hidupnya belum damai.

Kedamaian merupakan impian semua orang, dan kedamaian ini sering sekali kita dengar dari perkataan pribadi – pribadi yang sedang merasa kurang atau bahkan tidak memiliki kedamaian di hidupnya.

Jika kepada mereka yang menyimpan pertanyaan di atas, ditanyakan tentang hal apa yang bisa membuat mereka damai, biasanya akan diungkapkan jawaban – jawaban berikut :

– Di dalam keluarga yang berkecukupan
– Di dalam lingkungan pekerjaan yang menjanjikan fasilitas berlebih
– Di dalam lingkungan masyarakat yang tingkat kesejahteraannya di atas rata – rata
– Di dalam komunitas yang tidak pernah ada konflik
– Di dalam pribadi yang sehat
– dan masih banyak lagi jawaban dari mereka yang sedang merasa kurang atau tidak bahagia.

Namun apakah Anda yakin sepenuhnya seandainya kepada pribadi – pribadi yang telah memiliki semua hal di atas, disampaikan pertanyaan yang sama kepada kelompok yang merasa belum damai, mereka akan mengiyakan bahwa hidup mereka telah damai ?

Bisa dipastikan Anda akan menjadi ragu – ragu untuk sebuah jawaban tegas “YA”.

Kedamaian (hati) adalah sebuah misteri, tidak ada seorangpun yang bisa merasa benar – benar damai. Bahkan kepada seorang Nabi / Rasul pun kita bisa rasakan ketidakdamaian yang mengiringi perjalanan hidupNya. Dimusuhi kaumNya yang menolak ajaranNya, diperolok oleh kelompok pemuka agama yang sangat fanatik, dikejar – kejar hingga penganiayaan oleh kaumNya, malah ada yang dimusuhi oleh saudaraNya sendiri.

Para Nabi itu pada awalnya merasa tidak damai; merasa takut dan tidak mampu ketika mendapat tugas kenabian / kerasulan dari Tuhan, pada awalanya. Para Guru itu juga bukan dari kalangan keluarga kaya saat diberi tugas untuk menyampaikan Wahyu. Bahkan dalam perjalanan hidupNya dipenuhi konflik. Namun secara keseluruhan kita begitu mengagungkan Beliau, kita sangat dibuat kagum akan daya tahan dan kesetiaan para Nabi / Rasul kepada Tuhan, hingga memperoleh kemuliaan.

Cukup, saya tidak ingin mengajak kita semua untuk menjadi Nabi.

Namun satu hal yang harus kita teladani dari pribadi – pribadi yang telah mengalami kedamaian, yaitu kemampuanNya dalam menjaga ketenangan hati (batin) Nya. Di dalam setiap masalah, Beliau selalu tenang karena yakin Tuhan sedang berada di dekatNya dan menjadi perisai bagi setiap ancaman yang mengancam kedamaianNya.

Jadi jika hingga saat ini Anda belum merasa damai, mengapa tidak Anda ijinkan hati (batin) Anda untuk tetap menjadi tenang dalam setiap keadaan ? Akan banyak kenikmatan pada saat Anda membiarkan hati (batin) Anda dalam ketenangan : Anda akan punya cukup banyak waktu untuk merencanakan cita – cita atau impian Anda, dan mengevaluasi penyebab ketidakdamaian Anda, Anda akan punya cukup banyak waktu untuk berkeluh kesah kepada Tuhan melalui doa – doa dan permohonan Anda, Anda akan cukup banyak memiliki waktu mendengarkan bisikan nasihat Tuhan kepada Anda, dan Anda juga akan memiliki cukup banyak waktu untuk menghitung keberuntungan Anda. Dan terpenting adalah Anda akan memiliki banyak waktu untuk berbahagia dengan orang – orang terkasih Anda.

Jika sudah demikian, maka Anda tidak akan punya cukup waktu lagi untuk merasa tidak damai, dan menghitung kedamaian pada orang lain. Anda akan menjadi “seperti ikan” di dalam air bening yang tenang, menjadi damai dan mendamaikan bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Salam Gemilang,

Benedict Agung Widyatmoko

Penulis berlatar belakang pendidikan manajemen perusahaan, yang sangat concerns dengan pembelajaran kepribadian menyangkut pengembangan diri dan motivasi. Tulisan – tulisan inspirasional dan motivasional lainnya dari Penulis, dapat diperoleh dengan berkunjung ke blog : http://benedikawidyatmoko.wordpress.com atau http://benagewe.blogdetik.com. Saran dan masukan dapat dikirimkan melalui email : agung_widyatmoko@windowslive.com atau bened
ict.aw@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: