Kursi Bambu

Senin, 14-Juli-2008; 08:57:57 WIB


 
Oleh : Prie GS

Cuma untuk membedakan mana yang penting dan mana yang mendesak, ternyata makin tidak mudah, termasuk dalam soal membeli barang. Karena jika Anda mulai memiliki uang, semua barang menjadi kelihatan penting dan mendesak. Karena semakin maju ilmu pemasaran, para marketer itu juga makin pintar mementing-mentingkan dan mendesak-desakkan dagangan mereka. Akhirnya seluruh barang akan terlihat penting dan mendesak.

Tengoklah almari Anda yang penuh berjejalan itu. Apakah seluruh pakaian itu selalu Anda kenakan? Ternyata tidak. Barang yang tersimpan di dalamnya begitu lama, adalah barang yang kadang amat jarang dimanfaatkan. Inilah ternyata keadaan almari kita itu: ia terlalu sering diisi tetapi amat jarang dikeluarkan. Sampah di mana-mana di rumah kita, tetapi kita sering menganggapnya sebagai barang yang berguna. Ini kalau kita setuju pada definisi sampah berikut ini, yakni: sampah adalah barang yang kita miliki tetapi sama sekali tidak pernah ada gunanya. Jadi membedakan mana yang penting dan mendesak adalah panduan yang begitu tua umurnya, tetapi tidak mudah mendapat kepatuhan begitu saja.

Seperti juga ketika suatu kali aku harus membeli sebuah kursi bambu. Ini jelas bukan barang penting apalagi mendesak. Apalagi di teras rumahku telah penuh kursi. Begitu penuhnya sehingga seluruh teras itu isinya malah cuma kursi melulu. Semua ini gara-gara aku terlalu lama tidak punya kursi, sehingga siapa saja tetangga yang hendak membuang kursi lamanya, langsung teringat keadaanku. Akibatnya di teras rumah itu, kini penuh kursi pemberian. Jadi kesulitanku sekarang bukan lagi bagaimana menambah tetapi sudah berganti bagaimana mengurangi.

Dari perhitungan ini, membeli sebuah kursi lagi, bukan cuma tindakan yang tidak penting dan tidak mendesak, tetapi juga sebuah kekonyolan. Tetapi hidup memang berisi tidak cuma soal yang penting dan yang mendesak, tetapi juga berisi rasa iba dan tak enak hati. Melihat seorang tua, dengan empat kursi bambu panjang di pikulan adalah pemandangan yang tak mengenakkan. Beban itu pasti berat sekali. Dan cuma empat kursi itu saja yang sanggup dipikul pedagang tua ini. Maka kalau jumlah kursinya masih empat senantiasa, pasti belum ada satupun dagangan itu yang laku.

Melihat beban orang tua ini, aku segera teringat uang Rp 6 milyar yang cuma dibungkus tas plastik untuk bonus seorang oknum jaksa. Teringat pula aku pada tumpukan uang ratusn ribu, pecahan uang terbesar di negaraku, yang cuma ditumpuk di dalam ember kamar mandi seorang koruptor, ketika KPK menggeledah rumahnya. Ada uang berlimpah-limpah di sebelah sana, tetapi ada kerumitan hidup tak terperi di sebelah sini. Maka kursi bambu ini, kubeli tak lebih karena perasaan tak enak hati melihat pendulum sosial yang berat sebelah ini.

Tetapi inlah risikonya, setelah kursi ini terbeli, aku segera bingung sendiri. Di mana gerangan ia harus diletakkan? Tetapi aku kaget sendiri keitka kursi sepanjang ini ternyata ringan sekali. Karena bobotnya itu, aku jadi tergerak untuk membawanya ke lantai atas, lantai kosong tanpa atap yang selama ini sulit diisi perabotan karena tangga menujunya sempit sekali. Tetapi dengan kursi seringan ini, meskipun panjang, dengan sedikit manuver, ia pasti akan sampai ke atas sana. Dan benar akhirnya sampai juga barang ini di sana. Sejak itu lantai atas tempat aku terbiasa menggelar tikar, tiduran sambil membaca itu, telah punya kursi panjangnya.

Di kursi itulah aku memiliki gaya rebahan yang baru. Membaca sambil rebahan, merasakan semilir angin, mengantar matahari terbenam jika sore melihat bintang-bintang jika malam. Tiduran di kursi bambu ini membuat aku sering tertidur tanpa terasa. Tidur dengan kualitas yang amat jarang aku rasakan sebelumnya. Dan setiap kelelahan, aku cukup naik ke lantai tanpa atap ini untuk rebah di kursi ini dan tidur dengan cepatnya untuk bangun dengan gembira. Setiap bangun aku memandang kursi bambu jelek itu. Pikiranku ialah: kursi ini kubeli dengan niat baik. Pantas saja jika ia ganti membawa kebaikan untukku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: